Jumat, 11 November 2011

CERPEN

Kenangan Di Hari Lampau

Bersyukur ,itulah yang kurasakan sekarang di teras depan sambil memandangi kuningnya langit. Aku mengenang pahitnya kehidupan hidup sebelum bahagia seperti sekarang . dulu saat siang malam membanting tulang demi cita-cita anak. Selalu meratapi pedih dan pahit nasib.
Air mataku pun berlinang melihat kebahagiaan anak-anak ku sekarang yang makan kenyang,tidur nyeyak,merasakan hangatnya keluarga. Cita-cita mereka terwujud akibat kerja kerasku dan istriku yang mencari selembar uang dengan berjualan bakso .
“ Bu,kenapa tidak masuk ke rumah? hari sudah gelap. Nanti masuk angina lo!” seru Yanti.” Ya Yan,ibu masih betah disini,nanti ibu masuk kerumah”jawabku. Yanti pun masuk kedalam rumah.
Aku menjadi teringat Yanti. Dia merupakan anak pertamaku yang bersifat paling dewasa diantara adik-adiknya. Dia selalu ikhlas jika tak kuberi uang saku saat sekolah. Dia juga ikhlas jika sepatunya tidak ku ganti yang baru saat sepatunya rusak.Dia selalu membagi uangnya kepada adik-adiknya.Dan dia hanya belajar saat jam istirahat sekolah. Baginya ‘kesederhanaan bukanlah ganjalan untuk mencapai cita-citanya menjadi guru. Sekarang,dia sudah menjadi dosen di universitas di Surabaya setelah kelulusan S2 nya 6 tahun yang lalu.
Lain lagi dengan adiknya,Fitri. Dai adalah anak yang paling pemalu diantara teman-temannya. Dia sangat berprestasi di sekolah. Dia pernah membuatku sangat bangga ketika memenangi kontes menyanyi se-kabupaten. Diapun pernah diundang kerumah pak bupati. Atas prestasi=prestasinya itu,dia pernah ditawari bernyayi dalam suatu acara di Jakarta. Namun karena keterbatasan biaya kesana aku urung memberangkatkannya.
Memang ,dia merupakan gadis yang cantik,putih,dan tinggi. Namun karena sifatnya yang pamalu dia belum pernah berpacaran sebelum dengan suaminya. Akupun terkejut saat dia menerima lamaran menikah dari Gunawan, pengusaha sewit yang menjadi suaminya sekarang. Lama tidak jumpa dengannya. Apalagi dengan kedua cucuku. Mungkin mereka menjadi keluarga yang harmonis di Surabaya.
Teringat pula dengan anak sulungku,Firman. Di saat kecil,dia merupakan anak yang malas,jail,dan nakal. Diapun sering membuatku geram atas perilakunya. Membolos sekolah adalah hobinya. Dia pun sering kali lari jika ku suruh membantu menjual bakso.
Peringkat satu selalu dia raih di kelasnya. Padahal dia tak pernah belajar sebelum ada ulangan. Mungkin karena kecerdasan otaknya melebiha anak-anak lain. Dia sekarang menjabat sebagai salah satu anggota DPRRI di Senayan. Biaya sekolahnya tertolong dari berbagai beasiswa yang diraihnya. Diapun yang telah menaiakan Haji aku bersama ibunya.Sekarang aku hanya bisa bersyukur kepada Allah SWT atas situasi keluargaku saat ini.
“ALLAHUAKBAR ALLAHUAKBAR”terdengarlah suara adzan Magrib.Tak terasa hari sudah malam. Akupun bergegas masuk kerumah untuk sholat Magrib

Rabu, 25 Mei 2011

AC MILAN

Associazione Calcio Milan Italia (dipanggil A.C. Milan atau Milan saja) adalah sebuah klub sepak bola Italia yang berbasis di Milan. Mereka bermain dengan seragam bergaris merah-hitam dan celana putih (kadang-kadang hitam), sehingga dijuluki rossoneri ("merah-hitam"). Milan adalah tim tersukses kedua dalam sejarah persepak bolaan Italia, menjuarai Seri A 18 kali dan Piala Italia 5 kali.

Klub ini didirikan pada tahun 1899 dengan nama Klub Kriket dan Sepak bola Milan (Milan Cricket and Football Club) oleh Alfred Edwards, seorang ekspatriat Inggris[2]. Sebagai penghormatan terhadap asal-usulnya, Milan tetap menggunakan ejaan bahasa Inggris nama kotanya (Milan) daripada menggunakan ejaan bahasa Italia Milano.
Sejarah (1899 hingga kini)
[sunting] Awal masa terbentuk
“ Saremo una squadra di diavoli. I nostri colori saranno il rosso come il fuoco e il nero come la paura che incuteremo agli avversari! ”

—Herbert Kilpin

Klub ini didirikan oleh dua orang ekspatriat Inggris , yaitu Herbert Kilpin dan Alfred Edwards dengan nama Klub Kriket dan Sepakbola Milan pada tahun 16 Desember 1899. Pada saat itu, Edwards menjadi Presiden klub pertama Milan dan Kilpin menjadi kapten tim pertama Milan. Musim 1901, Milan memenangkan gelar pertamanya sebagai jawara sepak bola Italia, setelah mengalahkan Genoa C.F.C. 3-0 di final Kejuaraan Sepakbola Italia. Pada 1908, sebagian pemain dari Italia dan para pemain dari Swiss yang tidak menyukai dominasi orang Italia dan Inggris dalam skuad inti Milan saat itu, memisahkan diri dari Milan dan membentuk Internazionale.
[sunting] Masa GreNoLi
GreNoLi

Pada dekade 50-an, Milan ditakuti di bidang sepak bola dunia karena mempunyai trio GreNoLi , yang terdiri atas Gunnar Gren , Gunnar Nordahl , dan Nils Liedholm .Ketiganya merupakan pemain asal Swedia. Gren dan Nordahl beroperasi di sektor depan sebagai striker, sementara Liedholm mendukung serangan sebagai penyerang bayangan (playmaker). Tim di masa ini juga dihuni oleh sekelompok pemain-pemain berkualitas pada masanya, seperti Lorenzo Buffon, Cesare Maldini, dan Carlo Annovazzi. Kemenangan tersukses AC Milan oleh Juventus tercipta 5 Februari 1950, dengan skor 7-1, dan Gunnar Nordahl mencetak hat-trick.
[sunting] Era Nereo Rocco

Milan kembali memenangi musim 1961/1962. Pelatihnya saat itu adalah Nereo Rocco, pelatih sepak bola yang inovatif, yang dikenal sebagai penemu taktik catenaccio (pertahanan gerendel/berlapis). Di dalam tim termasuk Gianni Rivera dan José Altafini yang keduanya masih muda. Musim berikutnya, dengan gol Altafini, Milan memenangkan Piala Eropa pertama mereka (kemudian dikenal sebagai Liga Champions UEFA) dengan mengalahkan Benfica 2-1. Ini juga merupakan pertama kalinya sebuah tim Italia memenangkan Piala Eropa.

Meskipun begitu, selama tahun 1960-an piala kemenangan Milan mulai menyusut , terutama karena perlawanan berat dari Inter yang dilatih Helenio Herrera. Scudetto berikutnya tiba hanya di 1967/1968, berkat gol Pierino Prati, topskor Seri A di musim itu, Piala Winners berhasil direbut ketika mengalahkan Hamburger SV, dan juga berkat dua gol dari Kurt Hamrin. Musim selanjutnya AC Milan memenangkan Piala Eropa kedua (4-1 untuk AFC Ajax), dan pada 1969 memenangkan Piala Interkontinental pertama, setelah mengalahkan Estudiantes de La Plata dari Argentina dalam dua leg dramatis (3-0, 1-2).
[sunting] Scudetto kesepuluh dan Seri B

Di tahun 1970, Milan merebut tiga gelar Coppa Italia dan gelar Piala Winners kedua; namun, tujuan utama Milan adalah scudetto kesepuluh, yang berarti mendapatkan "bintang" untuk tim (di Italia,setiap tim yang meraih 10 gelar liga mendapat bintang yang disemat di bajunya). Di 1972 mereka meraih semifinal Piala UEFA, kalah dari pemenang sesungguhnya, Tottenham Hotspur. Musim 1972/1973 mereka hampir memenangkan scudetto kesepulh, namun gagal karena hasil kalah menyakitkan dari Hellas Verona F.C. di pertandingan terakhir musim. AC Milan menunggu sampai musim 1978/1979 untuk meraih scudetto kesepuluh mereka, yang dipimpin oleh Gianni Rivera, yang pensiun dari dunia sepak bola setelah membawa timnya meraih kemenangan tersebut.

Namun, hasil terburuk datang kepada "Rossoneri": setelah memenangkan musim 1979/1980, Milan didegradasi ke Seri B oleh F.I.G.C, bersama S.S. Lazio, karena terlibat skandal perjudian Totonero 1980. Di 1980/1981, Milan dengan mudah menjuarai Seri B, dan kembali ke Seri A, di mana penyakit tersebut terulang di musim 1981/1982, Milan terdegradasi kembali.
[sunting] The Dream Team
[sunting] Kedatangan Berlusconi

Setelah serentetan masalah menerpa Milan, dan membuat klub kehilangan suksesnya, AC Milan dibeli oleh enterpreneur Italia, Silvio Berlusconi. Berlusconi adalah sinar harapan Milan kala itu. Dia datang pada 1986. Berlusconi memboyong pelatih baru untuk Milan, Arrigo Sacchi, serta tiga orang pemain Belanda, Marco van Basten, Frank Rijkaard, dan Ruud Gullit, untuk mengembalikan tim pada kejayaan. Ia juga membeli pemain lainnya, seperti Roberto Donadoni, Carlo Ancelotti, dan Giovanni Galli.
[sunting] Era Sacchi
Arrigo Sacchi

Sacchi memenangkan Serie A musim 1987-1988. Di 1988-1989, Milan memenangkan gelar Liga Champions ketiganya, mempecundangi Steaua Bucureşti 4-0 di final, dan gelar Piala Interkontinental kedua mengalahkan National de Medellin (1-0, gol tercipta di babak perpanjangan waktu). Tim mulai mengulangi kejayaan mereka di musim-musim berikutnya, mengalahkan S.L. Benfica, dan Olimpia Asunción di 1990. Skuad kemenangan Eropa mereka adalah:
Kiper : Giovanni Galli
Bek : Mauro Tassotti -- Alessandro Costacurta -- Franco Baresi -- Paolo Maldini
Gelandang : Angelo Colombo -- Frank Rijkaard -- Carlo Ancelotti -- Roberto Donadoni
Penyerang : Ruud Gullit -- Marco van Basten
[sunting] Era Capello
Fabio Capello

Saat Sacchi meninggalkan Milan untuk melatih Italia, Fabio Capello dijadikan pelatih Milan selanjutnya, dan Milan meraih masa keemasannya sebagai Gli Invicibli (The Invicibles) dan Dream Team. Dengan 58 pertandingan tanpa satu pun kekalahan Invicibli membuat tim impian di semua sektor seperti Baresi, Costacurta, dan Maldini memimpin pertahanan terbaik, Marcel Desailly, Donadoni, dan Ancelotti di gelandang, dan Dejan Savićević, Zvonimir Boban, dan Daniele Massaro bermain di sektor depan. Pada saat dilatih Capello ini, Milan pernah singgah ke Indonesia dalam rangka tur musiman dan melawan klub lokal Persib Bandung. Pertandingan yang dimulai di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada tanggal 4 Juni 1994 itu dimenangkan Milan dengan skor telak 8-0. Gol kemenangan Milan dicetak oleh Dejan Savićević ('17)('18), Gianluigi Lentini ('26), Paolo Baldieri ('27)('48)('58), Christian Antigori ('68), dan Stefano Desideri ('78).
[sunting] Masa masa sulit (Tabarez ke Terim)

1996-1997

Setelah kepergian Fabio Capello pada tahun 1996, Milan merekrut Oscar Washington Tabarez tetapi perjuangan keras di bawah kendalinya kurang berhasil dan mereka selalu kalah dalam beberapa pertandingan awal. Dalam upaya untuk mendapatkan kembali kejayaan masa lalu, mereka memanggil kembali Arrigo Sacchi untuk menggantikan Tabarez. Milan mendapatkan tamparan keras kekalahan terburuk mereka di Seri A, dipermalukan oleh Juventus F.C. di rumah mereka sendiri San Siro dengan skor 1-4. Milan membeli sejumlah pemain baru seperti Ibrahim Ba, Christophe Dugarry dan Edgar Davids. Milan berjuang keras dan mengakhiri musim 1996-1997 di peringkat kesebelas di Seri A.

1997-1998

Sacchi digantikan dengan Capello di musim berikutnya. Capello yang menandatangani kontrak baru dengan Milan merekrut banyak pemain potensial seperti Kristen Ziege, Patrick Kluivert, Jesper Blomqvist, dan Leonardo; tetapi hasilnya sama buruk dengan musim sebelumnya. Musim 1997-1998 mereka berakhir di peringkat kesepuluh. Hasil ini tetap tidak bisa diterima para petinggi Milan, dan seperti Sacchi, Capello dipecat.

1998-1999

Dalam pencarian mereka untuk seorang manajer baru, Alberto Zaccheroni menarik perhatian Milan. Zaccheroni adalah manajer Udinese yang telah mengakhiri musim 1997-1998 pada peringkat yang tinggi di tempat ke-3. Milan mengontrak Zaccheroni bersama dengan dua orang pemain dari Udinese, Oliver Bierhoff dan Thomas Helveg. Milan juga menandatangani Roberto Ayala, Luigi Sala dan Andres Guglielminpietro dan dengan formasi kesukaan Zaccheroni 3-4-3, Zaccheroni membawa klub memenangkan scudetto ke-16 kembali ke Milan. Starting XI adalah: Christian Abbiati; Luigi Sala, Alessandro Costacurta, Paolo Maldini; Thomas Helveg, Demetrio Albertini, Massimo Ambrosini, Andres Guglielminpietro; Zvonimir Boban, George Weah, Oliver Bierhoff.

1999-2000

Meskipun sukses di musim sebelumnya, Zaccheroni gagal untuk mentransformasikan Milan seperti The Dream Team dulu. Pada musim berikutnya, meskipun munculnya striker Ukraina Andriy Shevchenko, Milan mengecewakan fans mereka baik dalam Liga Champions UEFA 1999-2000 ataupun Seri A. Milan keluar dari Liga Champions lebih awal, hanya memenangkan satu dari enam pertandingan (tiga seri dan dua kalah) dan mengakhiri musim 1999-2000 di tempat ke-3. Milan tidaklah menjadi sebuah tantangan bagi dua pesaing scudetto kala itu, S.S. Lazio dan Juventus.

2000-2001

Pada musim berikutnya, Milan memenuhi syarat untuk Liga Champions UEFA 2000-2001 setelah mengalahkan Dinamo Zagreb agregat 9-1. Milan memulai Liga Champions dengan semangat tinggi, mengalahkan Beşiktaş JK dari Turki dan raksasa Spanyol FC Barcelona, yang pada waktu itu terdiri dari superstar internasional kelas dunia, Rivaldo dan Patrick Kluivert. Tapi performa Milan mulai menurun secara serius, seri melawan sejumlah tim (yang dipandang sebagai kecil/lemah secara teknis untuk Milan), terutama kalah 2-1 oleh Juventus di Seri A dan 1-0 untuk Leeds United. Dalam Liga Champions putaran kedua, Milan hanya menang sekali dan seri empat kali. Mereka gagal untuk mengalahkan Deportivo de La Coruña dari Spanyol di pertandingan terakhir dan Zaccheroni dipecat. Cesare Maldini, ayah dari kapten tim Paolo, diangkat dan hal segera menjadi lebih baik. Debut kepelatihan resmi Maldini di Milan dimulai dengan menang 6-0 atas A.S. Bari, yang masih memiliki senjata muda, Antonio Cassano. Itu juga di bawah kepemimpinan Maldini bahwa Milan mengalahkan saingan berat sekota Internazionale dengan skor luar biasa 6-0, skor yang tidak pernah diulang dan di mana Serginho membintangi pertandingan. Namun, setelah bentuk puncak ini, Milan mulai kehilangan lagi termasuk kekalahan 1-0 yang mengecewakan untuk Vicenza Calcio, dengan satu-satunya gol dalam pertandingan dicetak oleh seorang Luca Toni. Terlepas dari hasil ini, dewan direksi Milan bersikukuh bahwa Milan mencapai tempat keempat di liga di akhir musim, tapi Maldini gagal dan tim berakhir di tempat keenam.

2001-2002

Milan memulai musim 2000-2001 dengan lebih banyak penandatanganan kontrak pemain bintang termasuk Javi Moreno dan Cosmin Contra yang membawa Deportivo Alavés ke putaran final Piala UEFA. Mereka juga menandatangani Kakha Kaladze (dari Dynamo Kyiv), Rui Costa (dari AC Fiorentina), Filippo Inzaghi (dari Juventus), Martin Laursen (dari Hellas Verona), Jon Dahl Tomasson (dari Feyenoord), Ümit Davala (dari Galatasaray) dan Andrea Pirlo (dari Inter Milan). Fatih Terim diangkat sebagai manajer, menggantikan Cesare Maldini, dan cukup sukses. Namun, setelah lima bulan di klub, Milan tidak berada di lima besar liga dan Terim dipecat karena gagal memenuhi harapan direksi.
[sunting] Era Ancelotti

Terim digantikan oleh Carlo Ancelotti, meskipun rumor bahwa Franco Baresi akan menjadi manajer baru. Terlepas dari masalah cedera pemain belakang Paolo Maldini, Ancelotti berhasil dan mengakhiri musim 2001-02 dalam peringkat empat, tempat terakhir untuk di Liga Champions. Starting XI pada saat itu adalah Christian Abbiati; Cosmin Contra, Alessandro Costacurta, Martin Laursen, Kakha Kaladze, Gennaro Gattuso, Demetrio Albertini, Serginho; Manuel Rui Costa; Andriy Shevchenko, Filippo Inzaghi. Ancelotti membawa Milan meraih gelar juara Liga Champions pada musim 2002/2003 ketika mengalahkan Juventus lewat drama adu penalti di Manchester, Inggris. Milan terakhir kali meraih gelar prestisus dengan merebut juara Liga Italia pada musim kompetisi 2003/2004 sekaligus menempatkan penyerang Andriy Shevchenko sebagai pencetak gol terbanyak di Liga Italia, maka rossoneri-pun semakin ditakuti.
[sunting] Pasang surut 2006-2008
Milan saat menghadapi corner di suatu pertandingan musim 2005/2006

Pada musim kompetisi Liga Italia Seri A 2006/2007, Milan terkait dengan skandal calciopoli yang mengakibatkan klub tersebut harus memulai kompetisi dengan pengurangan 8 poin. Meskipun begitu, publik Italia tetap berbangga karena di tengah rusaknya citra sepak bola Italia akibat calciopoli, Milan berhasil menjuarai kompetisi sepak bola yang paling bergengsi di dunia, Liga Champions. Hasil itu didapat setelah Milan menaklukkan Liverpool 2-1 lewat dua gol Filippo Inzaghi. Gelar inipun menuntaskan dendam Milan yang kalah adu penalti dengan Liverpool dua tahun silam. Gelar pencetak gol terbanyakpun disabet pemain jenius Milan, Kaká dengan torehan 10 gol. Pada pertengahan musim, Milan mendatangkan mantan pemain terbaik dunia, Ronaldo dari Real Madrid untuk memperkuat armada penyerang mereka setelah penyerang muda Marco Borriello dihukum karena terbukti doping. Musim 2007/2008, Milan terpaksa bermain di kompetisi Piala UEFA setelah hanya berhasil menduduki peringkat ke-5 dibawah Fiorentina dengan selisih 2 poin. Dalam pertandingan Serie A yang terakhir, Milan menang 4-1 atas Udinese, tapi di saat bersamaan, Fiorentina juga menang atas Torino dengan skor 1-0 yang akhirnya posisi kedua tim tak ada perubahan. Untuk memperbaiki performa di musim berikut (2008/2009), Milan membeli sejumlah pemain baru, di antaranya Mathieu Flamini dari Arsenal, serta Gianluca Zambrotta dan Ronaldinho yang keduanya berasal dari Barcelona. Pada transfer paruh musim 2008/2009, Milan mendatangkan David Beckham dengan status pinjaman dari klub sepak bola Amerika Serikat LA Galaxy.
[sunting] Pasca-Ancelotti
[sunting] Era Leonardo

Pada akhir musim 2008/2009,Milan menempati peringkat ke-3 klasemen liga Serie A, dua peringkat di bawah rival sekota, Internazionale yang meraih scudetto dan di bawah Juventus. Untuk memperbaiki hasil yang kurang memuaskan ini, Milan mendatangkan pelatih muda yang sekaligus mantan pemain Milan era 90-an, Leonardo untuk menggantikan pelatih Milan sebelumnya, Ancelotti yang "hijrah ke London", tepatnya klub Chelsea F.C.. Milan juga terpaksa melepas beberapa pemainnya, antara lain:

* Kaka, pindah ke Real Madrid .Nilai transfernya ± 67 juta Euro
* Paolo Maldini, bek legendaris Milan ini memutuskan untuk pensiun
* Yoann Gourcuff, memutuskan untuk tetap di Bordeaux.

Masalah terbesar yang mengganjal transfer para pemain tersebut adalah pihak Milan yang selalu berpikir dua kali untuk mengeluarkan uang demi membeli seorang pemain. Pada bulan Juli dan Agustus 2009, Milan mendapatkan dua pemain baru, yaitu Oguchi Onyewu yang merupakan seorang mantan bek Standard Liège dengan status bebas transfer dan Klaas-Jan Huntelaar eks striker Real Madrid dengan nilai kontrak 14,7 juta Euro. Namun hasil yang di dapatkan Milan pada turnamen pra-musim banyak menuai kekecewaan, pemain anyar yang diturunkan oleh Milan pada saat tur pra-musim hanya Oguchi Onyewu karena Huntelaar baru bergabung bulan Agustus.

Musim 2009/2010 diawali Milan dengan hasil yang tidak memuaskan. Bermula ketika Milan meraih hasil imbang 2-2 melawan Los Angeles Galaxy, seterusnya, Milan terus menuai hasil negatif. Milan terperosok di ajang World Football Challange 2009. Di ajang Audi Cup, Milan juga kalah oleh Bayern Munich dengan skor 1-4. Bahkan, ketika menghadapi derby 30 Agustus 2009 melawan Internazionale di San Siro, Milan kalah memalukan dengan skor 0-4, sekaligus memecahkan rekor kemenangan terbesar Inter di San Siro.

Pertengahan Oktober 2009, penilaian berbagai pihak tentang kinerja Leonardo sebagai pelatih yang tadinya berada di titik terendah akibat serentetan performa buruk, mulai terdongkrak dengan berhasilnya Leonardo memimpin Milan mengalahkan AS Roma 2-1 di San Siro[3]. Setelah kemenangan itu, Milan juga menuai hasil positif di Stadion Santiago Bernabéu dengan kemenangan dramatis atas Real Madrid 3-2[4]. Dan setelah itu, Milan kembali menuai kemenangan atas Chievo Verona di Stadio Marc'Antonio Bentegodi, kandang Chievo, skor 2-1 untuk kemenangan AC Milan. Pada 1 November 2009, Milan mengalahkan Parma F.C. di San Siro 2-0[5] sekaligus mengantarkan Milan ke peringkat 4 klasemen sementara (Zona masuk Liga Champions terakhir). Pada 19 November 2009, kekalahan 0-2 Juventus F.C. dari Cagliari membuat Milan berada di posisi runner-up di bawah Internazionale; karena, beberapa jam setelah kekalahan Juventus, Milan memenangkan pertandingannya dengan Catania, 2-0[6].

Memasuki bagian akhir musim Serie A April 2010, Milan yang tengah berada di peringkat ketiga dan hanya selisih 4 poin dari peringkat pertama kelasemen AS Roma, dan hanya berjarak 1 poin dengan peringkat kedua Inter Milan. Namun pada akhirnya Milan harus takluk dua kali berturut-turut dari Sampdoria 2-1, dan dari Palermo dengan skor 3-1. Dengan kekalahan tersebut, impian Milan untuk meraih gelar musim ini pupus. Pada pertandingan di giornata terakhir Seri A 2009/2010 antara Milan melawan Juventus, Leonardo memimpin Milan mengalahkan Juventus 3-0 di San Siro[7], sekaligus memberi kontribusi terakhirnya bagi rossoneri, dan mengumumkan bahwa ia akan berhenti melatih Milan untuk musim depan.[8] Sejak mundurnya Leonardo, banyak spekulasi yang berpendapat mengenai pelatih baru Milan, tetapi pada 25 Juni 2010, secara mengejutkan pihak Milan mengumumkan untuk memilih Massimiliano Allegri sebagai pelatih baru Milan.[9]
[sunting] Era Allegri, Scudetto ke-18

Musim 2010/2011, Milan dipimpin oleh Massimiliano Allegri, dengan berbagai pembaruan mulai dari sponsor (bwin.com digantikan Emirates), hingga lini pemain. Di akhir bursa transfer, secara mengejutkan Milan memboyong Zlatan Ibrahimovic dari F.C. Barcelona (dengan opsi pinjaman dan pembelian 24 juta Euro di akhir musim), dan Robinho dari Manchester City. Awal musim, Milan dikejutkan dengan kekalahan 0-2 dari tim promosi A.C. Cesena, meski dalam pertandingan tersebut baik Ibrahimovic maupun Robinho memulai debutnya. Pada pertandingan derby tanggal 14 November 2010, Milan mengalahkan Internazionale di Giuseppe Meazza dengan gol tunggal penalti Ibrahimovic. Pada transfer paruh musim, Milan memboyong sejumlah pemain anyar seperti Antonio Cassano dari U.C. Sampdoria, Mark van Bommel dari Bayern Munich, dan Nicola Legrottaglie dari Juventus F.C.. Di ajang Liga Champions, Milan yang berhasil menembus babak penyisihan grup dipermalukan Tottenham Hotspur dengan skor 0-1 di San Siro. 13 Maret 2011, Milan mengalami hasil seri 1-1 dengan penghuni dasar klasemen A.S. Bari, minggu berikutnya 19 Maret, Milan dipermalukan U.S. Città di Palermo 0-1 di Stadion Renzo Barbera. Kekalahan tersebut membuat jarak poin dengan posisi 2 Internazionale berkurang menjadi 2 poin, dan itu terjadi tepat sebelum derby Milan putaran kedua. 2 April, derby antara Milan dan Inter berlangsung di San Siro, berakhir dengan kemenangan Milan 3-0, berkat 2 gol Pato dan 1 gol Cassano. Pada 7 Mei 2011, Milan meraih hasil imbang 0-0 dengan A.S. Roma, 1 poin tambahan hasil seri membuat poin Milan menjadi 78 poin, tak terkejar peringkat 2 Inter karena kalah head-to-head, dan membuat Milan meraih gelar juara Serie A atau scudetto yang ke-18[10].

ranking club

Top 400
(1st May 2010 - 30th April 2011)


1. (2.) FC Barcelona España/4 300,0
2. (3.) Real Madrid CF España/4 298,0
3. (4.) FC do Porto Portugal/3 278,0
4. (6.) Manchester United FC England/4 269,0
5. (1.) FC Internazionale Milano Italia/4 250,0
6. (5.) SC Internacional Porto Alegre Brasil/4 238,0
7. (10.) Villarreal CF España/4 236,0
8. (12.) Manchester City FC England/4 228,0
9. (8.) FC Zenit St. Petersburg Russia/3 217,5
10. (14.) Paris Saint-Germain FC France/4 216,0
11. (7.) FC Bayern München Deutschland/4 212,0
12. (16.) FC Dinamo Kyiv Ukraine/3 211,5
13. (23.) Liga Deportiva Universitaria de Quito Ecuador/3 211,0
14. (13.) Chelsea FC London England/4 209,0
15. (29.) FC Schalke 04 Deutschland/4 208,0
16. (17.) Cruzeiro EC Belo Horizonte Brasil/4 203,0
17. (15.) AFC Ajax Amsterdam Nederland/3 202,5
18. (54.) Santos FC Brasil/4 200,0
19. (18.) PSV Eindhoven Nederland/3 196,5
20. (21.) TSV Bayer 04 Leverkusen Deutschland/4 196,0

(9.) Club Estudiantes de La Plata Argentina/4 196,0

(11.) Liverpool FC England/4 196,0
23. (24.) Beşiktaş JK İstanbul Türkiye/3 193,0
24. (18.) FC Shakhtar Donetsk Ukraine/3 190,5
25. (35.) Lille Olympique Sporting Club France/4 188,0
26. (58.) CA Vélez Sarsfield Argentina/4 187,0
27. (20.) Club Libertad Asunción Paraguay/3 186,5
28. (25.) SSC Napoli Italia/4 186,0
29. (31.) PFC CSKA Moscow Russia/3 185,5
30. (33.) Milan AC Italia/4 185,0
31. (38.) CCD Tolima Ibague Colombia/3 181,5
32. (27.) Tottenham Hotspur FC England/4 181,0
33. (28.) Club Sport Emelec Guayaquil Ecuador/3 180,0

(46.) Grêmio Foot-Ball Porto-Alegrense Brasil/4 180,0

(22.) FC Basel Schweiz/3 180,0
36. (35.) Arsenal FC London England/4 178,0
37. (41.) Sporting Clube de Braga Portugal/3 177,0
38. (37.) Juventus FC Torino Italia/4 176,0
39. (32.) Sevilla FC España/4 172,0

(61.) CA Independiente Avellaneda Argentina/4 172,0
41. (42.) Sport Lisboa e Benfica Portugal/3 171,5
42. (38.) FC København Danmark/3 169,0
43. (42.) AC Sparta Praha Česká Republika/3 168,5
44. (61.) Cerro Porteño FBC Asunción Paraguay/3 168,0

(46.) BV Borussia Dortmund Deutschland/4 168,0
46. (26.) AS Roma Italia/4 165,0
47. (65.) Club de Futbol Monterrey México/3 163,5
48. (33.) Valencia CF España/4 163,0

(40.) Hapoel Tel-Aviv FC Israel/2 163,0
50. (45.) FC BATE Barysau Belarus/2 162,0
51. (50.) FC Twente Enschede Nederland/3 160,0

(50.) SE Palmeiras São Paulo Brasil/4 160,0
53. (44.) Olympique de Marseille France/4 159,0
54. (68.) Fluminense FC Rio de Janeiro Brasil/4 158,0
55. (73.) CD Universidad Católica Santiago Chile/3 157,0
56. (55.) Olympique Lyonnais France/4 156,0

(48.) RSC Anderlecht Belgique/3 156,0

(52.) VfB Stuttgart Deutschland/4 156,0
59. (29.) Club Atlético de Madrid España/4 154,0
60. (56.) PAOK Saloniki Greece/3 153,0
61. (66.) FC Spartak Moscow Russia/3 149,5

(57.) BSC Young Boys Bern Schweiz/3 149,5
63. (60.) FC Utrecht Nederland/3 148,0
64. (63.) Sporting Clube de Portugal Lisboa Portugal/3 145,5
65. (74.) NK Dinamo Zagreb Hrvatska/2 145,0

(91.) CA Peñarol Montevideo Uruguay/3 145,0
67. (67.) US Citta di Palermo Italia/4 144,0

(53.) CD Cruz Azul Ciudad de México México/3 144,0
69. (79.) Glasgow Celtic FC Scotland/3 141,5
70. (58.) São Paulo FC Brasil/4 141,0
71. (76.) Glasgow Rangers FC Scotland/3 140,0
72. (76.) KKS Lech Poznań Polska/2 139,0
73. (81.) FK Partizan Beograd Srbija/2 137,0
74. (86.) Club Santos Laguna de Torreon México/3 136,5
75. (70.) KAA Gent Belgique/3 135,0
76. (72.) Al-Ahly Cairo Egypt/3 134,0
77. (75.) CD Universidad San Martín de Porres Perú/3 133,0

(78.) PFK Levski Sofia Bulgaria/2 133,0
79. (90.) Aris Saloniki Greece/3 132,0
80. (87.) Al-Hilal Omdurman Sudan/2 131,0

(100.) AEK Athens Greece/3 131,0
82. (71.) TP Mazembe Lubumbashi Congo DR/2 128,0
83. (96.) CD Once Caldas Manizales Colombia/3 126,0

(89.) FK Metalist Charkow Ukraine/3 126,0
85. (82.) Rosenborg BK Trondheim Norge/2 125,0
86. (88.) AA Argentinos Juniors Buenos Aires Argentina/4 123,0
87. (106.) NK Maribor (piv. Lazne) Slovenija/2 122,5
88. (117.) CD Oriente Petrolero Santa Cruz Bolivia/2 122,0

(92.) SK Karpaty Lviv Ukraine/3 122,0

(85.) FC Sheriff Tiraspol Moldova/2 122,0

(92.) Goias Esporte Clube Goiania Brasil/4 122,0
92. (97.) MŠK Žilina Slovensko/2 121,0
93. (82.) CSD Colo Colo Santiago Chile/3 120,0
94. (63.) Sociedad Deportivo Quito Ecuador/3 119,5

(122.) CPD Junior Barranquilla Colombia/3 119,5
96. (49.) SC Corinthians Paulista São Paulo Brasil/4 119,0

(104.) CD Godoy Cruz Antonio Tomba Mendoza Argentina/4 119,0
98. (95.) AZ Alkmaar Nederland/3 118,5
99. (103.) PAE Olympiakos SFP Pireas Greece/3 117,5

(84.) FUS Rabat Maroc/2 117,5
101. (139.) Motherwell FC Scotland/3 115,5
102. (122.) Real Salt Lake USA/2 114,5
103. (92.) Getafe FC España/4 114,0

(109.) FC Steaua Bucureşti România/3 114,0
105. (124.) Club Deportivo Unión Española Santiago Chile/3 112,5
106. (124.) Club Brugge KV Belgique/3 111,0

(130.) Zobahan Isfahan Iran/2 111,0

(117.) SK Rapid Wien Österreich/2 111,0
109. (104.) Odense BK Danmark/3 110,5
110. (109.) Brøndby IF Danmark/3 109,5
111. (167.) Caracas FC Venezuela/2 109,0
112. (102.) UC Sampdoria Genova Italia/4 108,0

(134.) FC Dinamo Bucureşti România/3 108,0

(109.) Independiente Santa Fe CD Bogotá Colombia/3 108,0
115. (200.) CF América Ciudad de México México/3 107,5

(119.) FC Dinamo Tbilisi Georgia/2 107,5

(134.) CSD Leon de Huánuco Perú/3 107,5
118. (108.) Jeunesse Sportive de Kabylie, Tizi Ouzou Algérie/2 106,5

(100.) Espérance Sportive de Tunis Tunisie/2 106,5
120. (98.) Randers FC Danmark/3 106,0

(120.) SV Werder Bremen Deutschland/4 106,0

(68.) CD Universidad de Chile Santiago Chile/3 106,0

(162.) Avai FC Florianopolis Brasil/4 106,0
124. (120.) APOEL Lefkosia Cypern/2 104,0

(192.) Stoke City FC England/4 104,0
126. (143.) Barcelona Sporting Club Guayaquil Ecuador/3 103,5

(243.) Al-Hilal FC Riyadh Saudi Arabia/2 103,5

(124.) Guaraní FC Asunción Paraguay/3 103,5

(143.) Club Nacional de Football Montevideo Uruguay/3 103,5
130. (107.) Esporte Clube Vitória Salvador Brasil/4 102,0
131. (140.) Sawahel Alexandria (Haras Hodoud) Egypt/3 101,5

(171.) CD Saprissa San Juan de Tibás San José Costa Rica/2 101,5
133. (156.) CSKA Sofia Bulgaria/2 101,0
134. (160.) Muang Thong United FC Thailand/2 100,5
135. (112.) CA Mineiro Belo Horizonte Brasil/4 100,0

(79.) CA Banfield Argentina/4 100,0

(127.) CA Newell's Old Boys Rosario Argentina/4 100,0
138. (127.) FK Rubin Kazan Russia/3 99,5

(113.) Kashima Antlers FC Japan/3 99,5
140. (147.) Defensor Sporting Club Montevideo Uruguay/3 99,0
141. (131.) Debreceni VSC Magyarország/2 98,0

(152.) Linfield FAC Northern Ireland/2 98,0

(201.) Clube Atletico Paranaense Curitiba Brasil/4 98,0

(131.) FK Austria Wien Österreich/2 98,0
145. (171.) The Columbus Crew USA/2 97,5

(145.) Nacional FBC Asunción Paraguay/3 97,5
147. (187.) Omonia FC Lefkosia Cypern/2 97,0
148. (187.) Suwon Samsung Blue-Wings FC Republic of Korea/2 96,5

(166.) FC Timişoara România/3 96,5
150. (134.) AJ Auxerroise France/4 96,0

(99.) CR Flamengo Rio de Janeiro Brasil/4 96,0

(185.) Al-Wehdat Amman Jordan/2 96,0

(173.) Lorient FC France/4 96,0

(159.) Enyimba International FC Aba Nigeria/2 96,0

(162.) Bolton Wanderers FC England/4 96,0
156. (177.) CB Jeonbuk Hyundai Motors Republic of Korea/2 95,5
157. (167.) Anorthosis Ammochostos Cypern/2 95,0

(162.) CSD Municipal Guatemala City Guatemala/2 95,0

(187.) FC Dacia Chişinău Moldova/2 95,0
160. (134.) RC Genk Belgique/3 94,5
161. (114.) Club Alianza Lima Perú/3 94,0

(131.) FC Gamba Osaka Japan/3 94,0

(196.) Djoliba AC Bamako Mali/1 94,0
164. (177.) FM Sepahan Isfahan Iran/2 93,0

(114.) Éntente Sportife de Sétif Algérie/2 93,0

(152.) Red Bull Salzburg Österreich/2 93,0
167. (161.) CD Olimpia Tegucigalpa Honduras/2 92,5

(176.) Fenerbahçe SK İstanbul Türkiye/3 92,5

(140.) Al-Qadsia SC Kuwait-City Kuwait/2 92,5
170. (192.) FK Zestafoni Georgia/2 92,0

(173.) OGC Nice France/4 92,0

(134.) Udinese Calcio Italia/4 92,0

(162.) SS Lazio Roma Italia/4 92,0
174. (155.) Club Deportivo Toluca México/3 91,5

(167.) CS Marítimo Funchal Portugal/3 91,5
176. (177.) FC Győr ETO Magyarország/2 91,0

(230.) FC Astra Ploieşti România/3 91,0
178. (150.) Club Deportivo Guadalajara México/3 90,5
179. (177.) PFC Litex Lovech Bulgaria/2 90,0

(177.) FC Dnipr Dnipropetrovsk Ukraine/3 90,0

(140.) CFR 1907 Cluj România/3 90,0

(177.) Botafogo FR Rio de Janeiro Brasil/4 90,0
183. (185.) KSV Cercle Brugge Belgique/3 89,5

(145.) SK Viktoria Plzeň Česká Republika/3 89,5
185. (175.) FBC Olimpia Asunción Paraguay/3 88,5

(158.) Seongnam Ilhwa Chunma FC Republic of Korea/2 88,5

(191.) Kalmar FF Sverige/2 88,5

(209.) ZESCO United FC Ndola Zambia/2 88,5
189. (147.) NK Hajduk Split Hrvatska/2 88,0

(150.) Al-Ismailia Egypt/3 88,0

(192.) CR Vasco da Gama Rio de Janeiro Brasil/4 88,0

(204.) FK Bunyodkor Tashkent Uzbekistan/2 88,0

(177.) Montpellier Hérault Sports Club France/4 88,0
194. (222.) ŠK Slovan Bratislava Slovensko/2 86,5
195. (213.) Hannoverscher SV 1896 Deutschland/4 86,0

(235.) CA River Plate Buenos Aires Argentina/4 86,0

(262.) Ceará SC Fortaleza Brasil/4 86,0
198. (270.) Royal Standard de Liège Belgique/3 85,5
199. (127.) Panathinaikos AO Athens Greece/3 85,0

(192.) Turkun Palloseura Suomi/2 85,0
201. (249.) FC Zürich Schweiz/3 84,5
202. (177.) CD Atletico Huila Neiva Colombia/3 84,0

(213.) FC Parma Italia/4 84,0

(224.) 1.FC Nürnberg Deutschland/4 84,0
205. (196.) Shamrock Rovers FC Éire/2 83,5

(167.) Dundee United FC Scotland/3 83,5
207. (209.) Trabzonspor K Trabzon Türkiye/3 83,0

(156.) Dynamos FC Harare Zimbabwe/2 83,0
209. (254.) Al-Sadd SC Doha Qatar/2 82,0

(213.) Real San Luis FC México/3 82,0

(218.) FK Garabagh Agdam Azerbaijan/1 82,0
212. (334.) Jaguares de Chiapas Tuxtla Gutiérrez México/3 81,5

(234.) FK Rabotnički Skopje Macedonia/2 81,5
214. (224.) Everton FC England/4 80,0

(209.) FC Dnyapro Mahilyou Belarus/2 80,0

(198.) Al-Merreikh Omdurman Sudan/2 80,0

(207.) Galatasaray SK İstanbul Türkiye/3 80,0

(208.) FC Girondins de Bordeaux France/4 80,0
219. (204.) Club Deportivo Cuenca Ecuador/3 79,5

(285.) FC Sion Schweiz/3 79,5

(235.) Deportivo Sport Huancayo Perú/3 79,5
222. (219.) CD San José Oruro Bolivia/2 79,0

(219.) FC Flora Tallínn Eesti/2 79,0

(224.) MyPa Anjalankoski Suomi/2 79,0

(230.) IF Elfsborg Borås Sverige/2 79,0

(270.) Nagoya Grampus Japan/3 79,0
227. (219.) ZANACO FC Lusaka Zambia/2 78,5
228. (285.) KVC Westerlo Belgique/3 78,0

(224.) Stade Rennais FC France/4 78,0

(289.) Maccabi Haifa FC Israel/2 78,0

(222.) Maccabi Tel-Aviv Israel/2 78,0

(337.) Zamalek SC Cairo Egypt/3 78,0

(213.) FC Levadia Tallínn Eesti/2 78,0

(235.) TSG Hoffenheim Deutschland/4 78,0

(256.) Audax Italiano La Florida Chile/3 78,0
236. (316.) Jeju United FC Republic of Korea/2 77,0

(243.) CD Universitario SFX de Sucre Bolivia/2 77,0
238. (256.) CD Unión San Felipe Chile/3 76,5

(268.) CDC Atlético Nacional Medellín Colombia/3 76,5

(278.) Cerezo Osaka FC Japan/3 76,5

(256.) Club Juan Aurich de Chiclayo Perú/3 76,5

(248.) Central Coast Mariners FC Gosford Australia/3 76,5

(249.) Portadown FC Northern Ireland/2 76,5
244. (235.) FK Ekranas Panevėžys Lietuva/2 76,0

(224.) Racing Club Avellaneda Argentina/4 76,0

(262.) 1. FSV Mainz 05 Deutschland/4 76,0

(294.) Birmingham City FC England/4 76,0

(204.) CA Lanús Argentina/4 76,0

(243.) FC Olimpia Bălti Moldova/2 76,0
250. (254.) FK Aqtobe Lento Kazakhstan/1 75,5
251. (430.) Tampines Rovers FC Singapore/2 75,0

(243.) FC Vaslui România/3 75,0

(147.) Universitario de Deportes Lima Perú/3 75,0

(289.) Seattle Sounders FC USA/2 75,0

(297.) Al-Shabab FC Riyadh Saudi Arabia/2 75,0

(270.) SK Tiranë Albania/2 75,0
257. (270.) Gaziantepspor Gaziantep Türkiye/3 74,5
258. (388.) Sunshine Stars FC Akure Nigeria/2 74,0

(278.) Athletic Club de Bilbao España/4 74,0

(116.) Fulham FC England/4 74,0

(303.) Real Club Deportivo de La Coruña España/4 74,0
262. (430.) MAS Fés Maroc/2 73,5

(311.) Club El Nacional Quito Ecuador/3 73,5
264. (242.) Bursaspor K Bursa Türkiye/3 73,0

(320.) Kelantan JKR Kota Bahru Malaysia/2 73,0

(256.) FC Dinamo Minsk Belarus/2 73,0

(243.) Persipura Jayapura Indonesia/2 73,0
268. (235.) Al-Wahda Abu Dhabi UAE/2 72,5

(187.) Al-Ittihad Tripoli Libya/2 72,5
270. (297.) Heart of Midlothian FC Edinburgh Scotland/3 72,0

(303.) AC Fiorentina Firenze Italia/4 72,0

(278.) Brisbane Roar FC Australia/3 72,0

(289.) The Bohemians FAC Dublin Éire/2 72,0

(297.) UNAM Ciudad de México México/3 72,0

(262.) AS de Saint-Etienne France/4 72,0

(388.) 1.FC Kaiserslautern Deutschland/4 72,0

(320.) Crusaders FC Northern Ireland/2 72,0

(249.) UD Almeria España/4 72,0

(278.) Etoile FC Queenstown Singapore/2 72,0
280. (285.) Toronto FC (Canada) USA/2 71,5

(373.) FK Ventspils Latvija/2 71,5

(302.) Cotonsport FC de Garoua Cameroun/2 71,5
283. (270.) SK Sturm Graz Österreich/2 71,0

(198.) FK Jablonec Česká Republika/3 71,0

(203.) CS Sfaxien Sfax Tunisie/2 71,0
286. (311.) Esteghlal FC Tehran Iran/2 70,5

(261.) Sriwijaya FC Palembang Indonesia/2 70,5

(430.) Al-Ittihad Club Jeddah Saudi Arabia/2 70,5
289. (303.) FC Genoa 1893 Italia/4 70,0

(249.) Bologna Calcio Italia/4 70,0

(413.) FC Sochaux-Montbeliard France/4 70,0

(604.) TWS Pegasus FC Hong Kong/2 70,0

(366.) Arsenal FC Sarandí Argentina/4 70,0

(262.) Valenciennes AFC France/4 70,0

(303.) PRK Hekari United FC Port Moresby Papua New Guinea/1 70,0
296. (503.) Wydad AC Casablanca Maroc/2 69,5

(293.) HŠK Zrinjski Mostar Bosne i Hercegovine/1 69,5

(334.) AFC Rapid Bucureşti România/3 69,5
299. (342.) FCM Brasov România/3 68,5

(201.) Al-Karama Homs Syria/2 68,5

(268.) Stade Malien de Bamako Mali/1 68,5

(362.) Ethikos Olympiakos Volos Greece/3 68,5
303. (320.) CD Marathón San Pedro Sula Honduras/2 68,0

(278.) Real Club Deportivo Mallorca España/4 68,0

(152.) Hamburger SV Deutschland/4 68,0

(303.) SC Freiburg Deutschland/4 68,0

(230.) Al-Kuwait SC Kaifan Kuwait/2 68,0

(224.) Clube Atletico Goianiense Goian Brasil/4 68,0

(262.) Aston Villa FC England/4 68,0

(342.) Cagliari Calcio Italia/4 68,0

(320.) Nasaf Qarshi FC Uzbekistan/2 68,0

(249.) AS de Monaco France/4 68,0

(342.) Real Zaragoza CD España/4 68,0
314. (320.) FC Oţelul Galaţi România/3 67,5

(311.) Club Rubio Ñú Paraguay/3 67,5

(311.) CD La Equidad Bogotá Colombia/3 67,5

(362.) İstanbul BB Türkiye/3 67,5
318. (270.) SK SIGMA Olomouc Česká Republika/3 67,0
319. (303.) KV Mechelen Belgique/3 66,5

(277.) Bnei Yehuda FC Tel-Aviv Israel/2 66,5

(456.) SK Liepajas Metalurgs Latvija/2 66,5

(334.) FC Groningen Nederland/3 66,5
323. (409.) FC Seoul Republic of Korea/2 66,0

(320.) FC Pyunik Yerevan Armenia/2 66,0

(437.) Real Sporting de Gijon España/4 66,0

(320.) CA San Lorenzo de Almagro Buenos Aires Argentina/4 66,0

(413.) Vitória SC Guimarães Portugal/3 66,0

(355.) CN Cúcuta Deportivo Colombia/3 66,0
329. (386.) Chonburi FC Thailand/2 65,5
330. (297.) FK Crvena zvezda Beograd Srbija/2 65,0

(320.) FK Spartak Zlatibor Subotica Srbija/2 65,0

(388.) TCDK Sông Lam Nghe An Vinh Vietnam/2 65,0

(235.) Club Bolívar La Paz Bolivia/2 65,0

(388.) Centro Deportivo Olmedo Rio Bamba Ecuador/3 65,0
335. (373.) AIK Solna Sverige/2 64,5

(333.) Trujillanos FC Valera Venezuela/2 64,5

(388.) Universitario de Nuevo León Monterrey México/3 64,5

(319.) FK Teteks Tetovo Macedonia/2 64,5

(256.) Clube Desportivo 1° de Agosto Luanda Angola/2 64,5

(355.) CSCD Universidad César Valleja Trujillo Perú/3 64,5

(353.) FK Skonto Rīga Latvija/2 64,5

(382.) Shandong Luneng Taishan China/2 64,5

(355.) Atromitos Athinen Greece/3 64,5
344. (213.) Pachuca CF México/3 64,0

(413.) CA Boca Juniors Buenos Aires Argentina/4 64,0

(278.) RCD Espanyol Barcelona España/4 64,0

(320.) Wisła Kraków SA Polska/2 64,0

(366.) CA Colón de Santa Fe Argentina/4 64,0

(464.) Newcastle United FC England/4 64,0

(262.) West Ham United FC England/4 64,0

(209.) FC Midtjylland Danmark/3 64,0

(522.) West Bromwich Albion FC England/4 64,0

(403.) Genclerbirligi K Ankara Türkiye/3 64,0

(342.) Catania Calcio Italia/4 64,0

(355.) FC Iskra-Stal Ribníta Moldova/2 64,0
356. (337.) Glentoran FC Belfast Northern Ireland/2 63,5

(366.) Al-Urooba Sur Oman/2 63,5

(337.) KS Ruch Chorzów Polska/2 63,5

(296.) Shimizu FC S-Pulse Japan/3 63,5

(353.) Sligo Rovers FC Éire/2 63,5
361. (373.) Cienciano del Cusco Perú/3 63,0

(320.) HJK Helsinki Suomi/2 63,0

(355.) ID Cologio Nacional Iquitos Perú/3 63,0

(373.) Roda JC Kerkrade Nederland/3 63,0

(289.) Al-Ittihad Aleppo Syria/2 63,0
366. (342.) St. Johnstone FC Perth Scotland/3 62,5

(403.) Motor Action FC Harare Zimbabwe/2 62,5

(337.) Pakhtakor FK Tashkent Uzbekistan/2 62,5
369. (413.) Al-Ansar Beirut Lebanon/2 62,0

(545.) Al-Ahed FC Beirut Lebanon/2 62,0

(388.) NK Koper Slovenija/2 62,0

(388.) CA Tigre Argentina/4 62,0

(342.) AS de Nancy-Lorraine France/4 62,0

(342.) Real Racing Club de Santander España/4 62,0

(294.) Sunderland AFC England/4 62,0
376. (445.) Melbourne Victory FC Australia/3 61,5

(409.) Feyenoord Rotterdam Nederland/3 61,5

(464.) Tianjin Teda FC China/2 61,5

(373.) FC Lokomotiv Moscow Russia/3 61,5

(388.) Club Atlético Monarcas Morelia México/3 61,5

(320.) Adelaide United FC Australia/3 61,5
382. (486.) Auckland City FC New Zealand/2 61,0

(278.) Heartland FC Oweri Nigeria/2 61,0

(388.) CSD Comunicaciones Guatemala City Guatemala/2 61,0

(342.) FC Luzern Schweiz/3 61,0

(366.) FC Olimpi Rustavi Tbilisi Georgia/2 61,0

(355.) FC WIT Georgia Tbilisi Georgia/2 61,0

(366.) Cliftonville FC Belfast Northern Ireland/2 61,0

(373.) Manta FC Ecuador/3 61,0
390. (530.) Grupo Desportivo Interclube Luanda Angola/2 60,0

(413.) Blackburn Rovers FC England/4 60,0

(320.) Sporting Cristal Lima Perú/3 60,0

(426.) CS Gaz Methan Medias România/3 60,0

(437.) VfL Wolfsburg Deutschland/4 60,0

(426.) Club Inti Gas Deportes Ayacucho Perú/3 60,0

(373.) Sport Boys Association Callao Perú/3 60,0

(522.) UD Levante España/4 60,0

(303.) FC Lausanne-Sports Schweiz/3 60,0

(342.) Racing Club de Lens France/4 60,0

(342.) FC de Toulouse France/4 60,0

(337.) CCD Quindío Armenia Colombia/3 60,0

(481.) Sydney FC Australia/3 60,0

(366.) Apollon FC Lemesos Cypern/2 60,0

(388.) KR Reykjavík Iceland/2 60,0

(413.) Tauro FC Panamá-City Panamá/2 60,0

(486.) Stade Brest France/4 60,0

Senin, 25 April 2011

JOKO KAWUNG(PRABU RUDIMULYA)


Negara Ramesan tansah luwih geger ing penguasane raja Radiluhung.Wong nyolong lan mati katon rejo ing sabendinane. Sebab kabeh barang larang regane lan soya luwih mundhak. Raja Radiluhung ngator kabeh perdagangan lan nglarangne pajak. Jelas kuwi ndadekne rakyat cilik sengsara. Keadilan mati ing Negara iku. Akeh warga seng nglakoni pemberontakan. Nanging mesti gaga ling tangane raja.
Nanging raja ora mung senengwiwit ana Joko Kawung . Raja Kawung iku wong kepercayaane warga.Deweke sregep mbantu marang warga kang sengsara. Joko seneng njarai Raja kanggo mbales perilakune raja marang warga. Sampek-sampek Raja nesu gede. Bola-bali misi kanggo mateni Joko Kawung ,nanging mesti gagal ing tengah ndalan.
Ing siji dina perang gede pecah. Prajurit-prajurit utusan raja nyerang nuju omahe Joko Kawung. Prajurit wweroh ana wong ngadek ing njero omah iku. Prajurit-prajurit iku ngebong omah iku lan ngiro Joko melok kobong ing njero omah iku.Namung ikiu salah. Joko wis ngerti sakdurune ngenani misi iku. Joko masang wong-wongan sawah ing njero omahe supaya dikiro ikuu deweke.
Joko mbales perlakuane Raja marna deweke. Joko nrobos mlebu ing njero wilayah keraton. Ana loro prajurit sing eroh kedadian iki. Naming Joko langsung nyergap lan nyikep prajurit loro iku. Ana akal wae joko njarai Raja. Joko nyemplungi bak aduse raja ula Luwok gedi kna ganas bisane.
Saben sore raja adus kanggo ngilangi rasa kesele. Bareng nyemplong ing bak adus,Raja krasa ana kewan obah ing sikile mergo kaget ,ula iku langsung nyakot sikile Raja. Raja langsung mbengok-mbengok lara.
Raja wis gak tahan karo polah tingkahe Joko Kawung . raja kepingin banget mateni Joko Kawung.raja nduweni siasat licik. Raja nawari Joko supaya manggen ing keratin. Tujuane raja iso luwih penak mateni Joko Kawung. Joko mesti gelem amarga omahe wis ajur kebakar. Joko nyetujui tawaran raja iku. Nanging Joko wis ngerti iku gor siasat licikr Raja.
Sesoke Raja ngawa barang lan kewan angonane pindah ing keratin. Angonane koyo bebek,pitik lan kuceng.joko dipande pengawal keratin manggen ana kamar bagian pinggir mburi keraton. Tujuane supaya gak iso mlayu yen dikepung amarga ora ana dalan metu ing sekitare kamar iku.
Urong ana sewengi,kewan-kewane Joko Kawung wis gawe kegaduhan. Bebeke terus kwak kwek ing keraton ,sehingga Raja keganggu turune. Raja nyandak mangan ing meja mangan.Nanging Raja terus watok-watok jalaran kucine Joko terus nyedek Raja. Ora napsu madang,Raja nyandak adus ing jading.Bareng  nyemplomg ing bak adus,Raja krasa ana ambu nyengat ing bak mandi. Bareng didelok ,bak mandi iku akeh telek pithik. Pithike Joko seng neleki. Amarahe Raja munggah. Raja ngutus prajurite supaya namgkep kewan-kewan iku. Nanging kewan-kewan iku angel banget dicekel koyok seng nduwe.
Bengine Raja  ngundang Joko Kawung makan bareng ing ruang makan.ingkono pangeran pethok kaliyan putrine Raja Radiluhung kang asma Dewi Ratmi. Dewi Ratmi ngrasa tresna marang Joko Kawung ing penyawang kepisan. Rasa iku podo ngrasakne rasa iku.
Pelayan wis teko saka pawon keratin.Joko disuguhi sajian kang betosaking liyane.pelayan wis nyampuri sajian iku ngango racun ing suruane Rajane. Joko wis ngerteni marang rencana iku.Tapi deweki ethok-ethok gak ngerteni jebakan iku
Joko golek cara supaya iso mbales jebakan iku. Ana Asu kesayangane Raja golek panganan ing ngisor meja.Joko nguwehne hidangan iku kanggo Asu luwe iku. Bareng sajian iku entek dipanangan Asu iku,Joko ngangkat sajian iki ing meja lan langsung ngaleh mlebu kamar.
Raja langsung marem kegirangan ngenene kedadian iki. Raja nyangka yen sajian isi racun iku wis dipangan Joko kanthi entek. Raja yakin Joko sesok esuk wis dadi mayet. Joko mikir rencana ing njero kamare. Joko  mikir deweke deweke mesti diserbu bareng weruh Asune keracunan.Mumpung lagi sepi,joko kabur sking keratin lan ndelik ing guwo ing alas Ragen cedhak desane warga kanggo semedi.
Sesoke ,Raja siap nyetuki mayite Joko Kawung.Nanging bareng digoleki ing kamare ora ana tanda-tanda ana Joko Kawung.Raja goleki Asune kesayangane kang anduweni andra ambu kang tajem kang mnantu goleki Joko Kawung. Nanging kok gak pethok-pethok. Pengawale nemoni Asune iku keracunanan ing cedhek meja Joko lungguh mau bengi.Raja baru nyadar yen seng manna racun dudu Joko nanging Asune.
Amarahe raja munggah.Raja niat nyerbu Juko Kawung kanthi gede-gedean. Raja mrentah sewu prajurite nyerbu Joko Kawung kanthi pimpinane Raja dewe.Prajurit-Prajurit iku nggoleki Joko nganti pelosok-pelosok desa. Raja Radiluhung curiga maring siji panggon,yaiku giwo ing alas Ragen. Sewu prajurit ngepung guwo iku.
Akhire Joko Kawung metu saka guwo.ingkono kedadian aneh kelakon.Joko Kawung ngubah deweke dadi wujud asline yaiku Prabu Rudimulya saking kerajaan Kutharaharja. Prabu Rudimulya nduweni pusaka ampuh yaiki Pedhang Naga Pulanggeni. Tanpa nunggu Raja langsung ngibetne pedhange . kabeh prajurit mati termasuk Raja Radiluhung.
Prabu Rudimulya iso nguwasani Negara Ramesan. Lan deweke didadeknr raja ing Negara iku. Raja Rudimulya ngangkat Dewi Ratmi dadi pendamping uripe. Ing penguasane Raja Rudimulya ,wraga iso urepaman lan makmur





KARYA   :DANIS BS

TWITTER

Menu