Jumat, 11 November 2011

CERPEN

Kenangan Di Hari Lampau

Bersyukur ,itulah yang kurasakan sekarang di teras depan sambil memandangi kuningnya langit. Aku mengenang pahitnya kehidupan hidup sebelum bahagia seperti sekarang . dulu saat siang malam membanting tulang demi cita-cita anak. Selalu meratapi pedih dan pahit nasib.
Air mataku pun berlinang melihat kebahagiaan anak-anak ku sekarang yang makan kenyang,tidur nyeyak,merasakan hangatnya keluarga. Cita-cita mereka terwujud akibat kerja kerasku dan istriku yang mencari selembar uang dengan berjualan bakso .
“ Bu,kenapa tidak masuk ke rumah? hari sudah gelap. Nanti masuk angina lo!” seru Yanti.” Ya Yan,ibu masih betah disini,nanti ibu masuk kerumah”jawabku. Yanti pun masuk kedalam rumah.
Aku menjadi teringat Yanti. Dia merupakan anak pertamaku yang bersifat paling dewasa diantara adik-adiknya. Dia selalu ikhlas jika tak kuberi uang saku saat sekolah. Dia juga ikhlas jika sepatunya tidak ku ganti yang baru saat sepatunya rusak.Dia selalu membagi uangnya kepada adik-adiknya.Dan dia hanya belajar saat jam istirahat sekolah. Baginya ‘kesederhanaan bukanlah ganjalan untuk mencapai cita-citanya menjadi guru. Sekarang,dia sudah menjadi dosen di universitas di Surabaya setelah kelulusan S2 nya 6 tahun yang lalu.
Lain lagi dengan adiknya,Fitri. Dai adalah anak yang paling pemalu diantara teman-temannya. Dia sangat berprestasi di sekolah. Dia pernah membuatku sangat bangga ketika memenangi kontes menyanyi se-kabupaten. Diapun pernah diundang kerumah pak bupati. Atas prestasi=prestasinya itu,dia pernah ditawari bernyayi dalam suatu acara di Jakarta. Namun karena keterbatasan biaya kesana aku urung memberangkatkannya.
Memang ,dia merupakan gadis yang cantik,putih,dan tinggi. Namun karena sifatnya yang pamalu dia belum pernah berpacaran sebelum dengan suaminya. Akupun terkejut saat dia menerima lamaran menikah dari Gunawan, pengusaha sewit yang menjadi suaminya sekarang. Lama tidak jumpa dengannya. Apalagi dengan kedua cucuku. Mungkin mereka menjadi keluarga yang harmonis di Surabaya.
Teringat pula dengan anak sulungku,Firman. Di saat kecil,dia merupakan anak yang malas,jail,dan nakal. Diapun sering membuatku geram atas perilakunya. Membolos sekolah adalah hobinya. Dia pun sering kali lari jika ku suruh membantu menjual bakso.
Peringkat satu selalu dia raih di kelasnya. Padahal dia tak pernah belajar sebelum ada ulangan. Mungkin karena kecerdasan otaknya melebiha anak-anak lain. Dia sekarang menjabat sebagai salah satu anggota DPRRI di Senayan. Biaya sekolahnya tertolong dari berbagai beasiswa yang diraihnya. Diapun yang telah menaiakan Haji aku bersama ibunya.Sekarang aku hanya bisa bersyukur kepada Allah SWT atas situasi keluargaku saat ini.
“ALLAHUAKBAR ALLAHUAKBAR”terdengarlah suara adzan Magrib.Tak terasa hari sudah malam. Akupun bergegas masuk kerumah untuk sholat Magrib

TWITTER

Menu